Selasa, 16 April 2013

HARTA KARUN NUSANTARA


4 MISTERI KEJAYAAN INDONESIA

Saat ini, negeri kita Indonesia dianggap sebagai bangsa yang belum makmur,taraf kesejahteraan warganya rendah. Tingkat sumber daya manusia yang masih rendah, kita dilabeli sebagai bangsa yang masih tradisional dengan perkembangan teknologi yang belum maju. Sebagai sebuah bangsa yang dianugerahi dengan kekayaan alam yang melimpah, akal dan pikiran yang sama dengan bangsa lain seharusnya kita mampu menjadi bangsa yang besar, negeri makmur “ gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.” Berikut saya coba uraikan hal- hal yang masih dianggap mitos ataupun misteri, yang apabila diantaranya ternyata benar ataupun terjadi ( mudah-mudahan benar semua ) tujuan bersama menuju Indonesia adil makmur akan tercapai.











1. Indonesia Adalah Atlantis Yang Hilang


Peradaban Atlantis merupakan Mitos yang kali pertama dicetuskan Filsuf Yunani Kuno bernama Plato (427 – 347 SM) dalam bukunya Critias dan Timaeus. Dalam kedua buku tersebut menceritakan tentang sebuah daratan raksasa dengan peradaban yang menakjubkan pada masa lampau. Atlantis bukanlah khayalan Plato, hal itu diceritakan turun-temurun dan diamini oleh banyak tokoh di masanya.

Atlantis menghasilkan emas dan perak yang banyak, hingga istananya yang megah dikelilingi tembok dari emas dan perak. Daerahnya kaya sumber daya alam dan perkembangan peradabannya pesat, memiliki pelabuhan dan armada kapal lengkap, juga benda yang mampu membuat orang terbang. Kekuasaannya mencakup wilayah yang luas hingga Eropa dan Afrika. Setelah hanyut dilanda gempa dahsyat, wilayah itu menghilang dan terlupakan. Jika uraikan Plato nyata, maka ribuan tahun silam manusia telah menciptakan peradaban yang tinggi yang mungkin melebihi peradaban masa kini.

Hilangnya Peradaban Atlantis ribuan tahun, membuat banyak orang meneliti dan mencari keberadaan nya. Hingga banyak sekali versi dan cerita terungkapnnya Kota Atlantis, tetapi hingga kini hal itu belum ada yang terbukti nyata.

Menurut penelitian mutakhir Arsyso Santos selama 30 tahun, dalam bukunya Atlantis, The Lost Continent Finally Foun, The Definitive Localization Of Plato’s Lost Civilization (2005) menegaskan bahwa Atlantis berada di wilayah yang sekarang disebut Indonesia. Santos menampilkan 33 perbandingan, seperti luas wilayah,cuaca,kekayaan alam,gunung berapi dan cara bertani di Indonesia. Menurutnya sistem terasisasi (berundak) sawah di Indonesia diadopsi dari Candi Borobudur, Piramida Mesir dan Kuil Aztec di Meksiko.

Wilayah Indonesia pada ribuan tahun silam merupakan suatu benua yang menyatu,tidak terpecah-pecah ribuan pulau seperti sekarang. Hal ini serupa dengan Atlantis yang merupakan sebuah benua dengan puluhan gunung berapi aktif dan dikeliling oleh 2 samudra yang menyatu (Orientale), yaitu Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Wilayahnya terbentang dari selatan India, Sri Langka, Sumatra, jawa, Kalimantan hingga ke arah timur dengan wilayah yang disebut Indonesia sekarang ini sebagai pusatnya.

Terjadi letusan secara hampir bersamaan berbagai gunung berapi masa itu di wilayah Atlantis seperti, letusan Gunung Meru di India Selatan, Gunung Sumeru di Jawa Timur, Gunung di Sumatera hingga terbentuk Danau Toba dan Letusan Gunung Krakatau yang membelah Sumatera dengan Jawa. Karena berbagai letusan tersebut, menyebabkan lapisan es di kutub mencair dan mengalir ke samudra hingga luasnya bertambah. Terjadi efek beruntun dengan terjadinya gempa dan tsunami yang berakibat terpendamnya sebagian besar wilayah Atlantis.

Indonesia dianggap sebagai Atlantis yang hilang, hal yang seharusnya membuat kita bersyukur. Pada masa Atlantis merupakan pusat peradaban dunia, negeri makmur dengan sumber daya melimpah. Pun membuat kita belajar sebagai daerah rawan bencana, dari sejarah dan dengan teknologi mutakhir berusaha membangun Indonesia baru.


2. Indonesia Kuburan Harta Karun

Banyak harta karun yang bertebaran di wilayah Indonesia, baik di daratan terlebih lagi di lautan. Sebelum Bangsa Eropa menguasai wilayah Nusantara abad ke 15, Indonesia merupakan daerah perdagangan yang ramai. Menghubungkan perdagangan India, Timur Tengah, Cina dan orang-orang Eropa.

Dalam masa itu tak terhitung kapal yang hilang dan karam di perairan Nusantara. Dalam beberapa catatan ratusan kapal Cina pengangkut harta dan keramik berharga hilang, 800 kapal Portugis hilang sejak 1650 dalam perjalanan ke Atlantik Selatan dan Asia Tenggara, lebih dari 7.000 hilang dalam catatan English East India Company (EIC) dan 105 kapal VOC Belanda hilang dalam pelayaran antara 1602-1794, kesemua kapal tersebut bermuatan barang-barang berharga.

Berbagai peninggalan tersebut sudah banyak ditemukan. Setelah terjadinya Tsunami Aceh, beberapa titik di perairan Mentawai Sumatera ditemukan harta karun dari kapal Cina dan kapal dagang VOC yang karam.

Harta karun senilai Rp. 720 Miliar berupa 250.000 benda keramik, Kristal, permata dan emas ditemukan di perairan Cirebon, Jawa Barat tahun 2005 oleh eksplorasi pihak asing . Namun barang tersebut akhirnya dilego pada kolektor di Singapura.

Di Pulau Onrust daerah Teluk Jakarta diindikasikan terdapat penyimpanan harta karun VOC Belanda. Hal ini berdasar keganjilan sejarah tentang VOC yang bangkrut secara mendadak , karena merupakan institusi dagang Belanda yang besar dan telah lama mengeruk kekayaan alam Indonesia. Konon jumlah harta di Pulau Onrust bisa untuk melunasi Utang Indonesia.

Harta Karun yang tak kalah banyak adalah peninggalan Kerajaan-Kerajaan Nusantara. Dari kerajaan di Jawa seperti Singosari, Majapahit, Mataram, Pajajaran hingga Kerajaan di Sumatera , Kalimantan dan Daerah timur Indonesia menyimpan banyak sekali peninggalan harta karun. Menurut mitos harta karun tersebut tersimpan di alam gaib, tak bisa ditemukan dengan mudah. Harta-harta tersebut akan dapat ditemukan oleh “orang yang terpilih.” Telah banyak peninggalan dari kerajaan berupa perhiasan dan perlengkapan istana yang diketemukan tak sengaja, melalui penelitian ataupun orang yang memperoleh wangsit (petunjuk gaib).

Banyaknya harta yang terpendam di perairan dan daratan Nusantara selama ini belum dikelola baik oleh Pemerintah Indonesia, sayangnya lagi hal itu justru banyak menjadi incaran arkeolog dan pemburu harta karun untuk tujuan komersil pribadi.


3. Peninggalan Dana Revolusi Era Soekarno

Pada tahun 1906 terjadilah ikrar raja-raja nusantara yang di prakasai oleh Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker (umumnya dikenal dengan nama Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi, Soetomo, Raden Adipati Tirtokoesoemo (presiden pertama Budi Utomo), Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dan Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto dalam ikrar tersebut ditumbuhkannya rasa nasionalisme “tanah air (Indonesia) diatas segala-galanya”. Pada saat itu seluruh raja-raja nusantara menyumbangkan sebagian asset mereka untuk membantu perjuangan. (Dana Perjuangan). Sebagian dana itu dipakai untuk biaya perjuangan dan sebagian lagi disimpan di luar negeri.

Dana perjuangan lebih dikenal dengan Dana Revolusi / Dana Amanah mulai dihimpun lagi pada masa setelah kemerdekaan, dana revolusi yang dihimpun berdasar perpu no.19 tahun 1960. Isinya antara lain, mewajibkan semua perusahaan negara menyetorkan lima persen dari keuntungannya pada pemerintah bagi Dana Revolusi. Yang disebut perusahaan negara itu, termasuk pula berbagai perusahaan Belanda yang baru dinasionalisasikan, seperti perkebunan-perkebunan besar. Konon berjumlah ratusan juta dolar tersimpan di luar negeri.

Salah satu sumber Dana Revolusi terbesar adalah adanya "Perjanjian The Green Hilton Memorial Agreement Geneva" dibuat dan ditandatangani pada 21 November 1963 di hotel Hilton Geneva oleh Presiden AS John F Kennedy dan Presiden RI Ir Soekarno dengan saksi tokoh negara Swiss William Vouker. Perjanjian ini menyusul MoU diantara RI dan AS tiga tahun sebelumnya. Point penting perjanjian itu; Pemerintahan AS (selaku pihak I) mengakui 50 persen keberadaan emas murni batangan milik RI, yaitu sebanyak 57.150 ton dalam kemasan 17 paket emas dan pemerintah RI (selaku pihak II) menerima batangan emas itu dalam bentuk biaya sewa penggunaan kolateral dolar yang diperuntukkan pembangunan keuangan AS.

Dalam point penting lain pada dokumen perjanjian itu, tercantum klausul yang memuat perincian; atas penggunaan kolateral tersebut pemerintah AS harus membayar fee 2,5 persen setiap tahunnya sebagai biaya sewa kepada Indonesia, mulai berlaku jatuh tempo sejak 21 November 1965 (dua tahun setelah perjanjian). Account khusus akan dibuat untuk menampung asset pencairan fee tersebut. Maksudnya, walau point dalam perjanjian tersebut tanpa mencantumkan klausul pengembalian harta, namun ada butir pengakuan status koloteral tersebut yang bersifat sewa (leasing). Biaya yang ditetapkan dalam dalam perjanjian itu sebesar 2,5 persen setiap tahun bagi siapa atau bagi negara mana saja yang menggunakannya.

Biaya pembayaran sewa kolateral yang 2,5 persen ini dibayarkan pada sebuah account khusus atas nama The Heritage Foundation (The HEF) yang pencairannya hanya boleh dilakukan oleh Bung Karno sendiri atas persetujuan Sri Paus Vatikan. Sedang pelaksanaan operasionalnya dilakukan Pemerintahan Swiss melalui United Bank of Switzerland (UBS). Kesepakatan ini berlaku dalam dua tahun ke depan sejak ditandatanganinya perjanjian tersebut, yakni pada 21 November 1965.

Sepenggal kalimat penting dalam perjanjian tersebut => ”Considering this statement, which was written andsigned in Novemver, 21th 1963 while the new certificate was valid in 1965 all the ownership, then the following total volumes were justobtained.” Perjanjian hitam di atas putih itu berkepala surat lambang Garuda bertinta emas di bagian atasnya dan berstempel ’The President of The United State of America’ dan ’Switzerland of Suisse’.

Berbagai otoritas moneter maupun kaum Monetarist, menilai perjanjian itu sebagai fondasi kolateral ekonomi perbankan dunia hingga kini. Ada pandangan khusus para ekonom, AS dapat menjadi negara kaya karena dijamin hartanya ’rakyat Indonesia’, yakni 57.150 ton emas murni milik para raja di Nusantara ini. Pandangan ini melahirkan opini kalau negara AS memang berutang banyak pada Indonesia, karena harta itu bukan punya pemerintah AS dan bukan punya negara Indonesia, melainkan harta raja-rajanya bangsa Indonesia.

Bagi Politikus AS sendiri, perjanjian The Green Hilton Agreement merupakan perjanjian paling tolol yang dilakukan pemerintah AS. Karena dalam perjanjian itu AS mengakui asset emas bangsa Indonesia. Sejarah ini berawal ketika 350 tahun Belanda menguasai Jawa dan sebagian besar Indonesia. Ketika itu para raja dan kalangan bangsawan, khususnya yang pro atau ’tunduk’ kepada Belanda lebih suka menyimpan harta kekayaannya dalam bentuk batangan emas di bank sentral milik kerajaan Belanda di Hindia Belanda, The Javache Bank (cikal bakal Bank Indonesia). Namun secara diam-diam para bankir The Javasche Bank (atas instruksi pemerintahnya) memboyong seluruh batangan emas milik para nasabahnya (para raja-raja dan bangsawan Nusantara) ke negerinya di Netherlands sana dengan dalih keamanannya akan lebih terjaga kalau disimpan di pusat kerajaan Belanda saat para nasabah mempertanyakan hal itu setelah belakangan hari ketahuan.

Waktu terus berjalan, lalu meletuslah Perang Dunia II di front Eropa, dimana kala itu wilayah kerajaan Belanda dicaplok pasukan Nazi Jerman. Militer Hitler dan pasukan SS Nazi-nya memboyong seluruh harta kekayaan Belanda ke Jerman. Sialnya, semua harta simpanan para raja di Nusantara yang tersimpan di bank sentral Belanda ikut digondol ke Jerman.

Perang Dunia II front Eropa berakhir dengan kekalahan Jerman di tangan pasukan Sekutu yang dipimpin AS. Oleh pasukan AS segenap harta jarahan SS Nazi pimpinan Adolf Hitler diangkut semua ke daratan AS, tanpa terkecuali harta milik raja-raja dan bangsawan di Nusantara yang sebelumnya disimpan pada bank sentral Belanda. Maka dengan modal harta tersebut, Amerika kembali membangun The Federal Reserve Bank (FED) yang hampir bangkrut karena dampak Perang Dunia II, oleh ’pemerintahnya’ The FED ditargetkan menjadi ujung tombak sistem kapitalisme AS dalam menguasai ekonomi dunia.

Belakangan kabar ’penjarahan’ emas batangan oleh pasukan AS untuk modal membangun kembali ekonomi AS yang sempat terpuruk pada Perang Dunia II itu didengar pula oleh Ir Soekarno selaku Presiden I RI yang langsung meresponnya lewat jalur rahasia diplomatic untuk memperoleh kembali harta karun itu dengan mengutus Dr Subandrio, Chaerul saleh dan Yusuf Muda Dalam walaupun peluang mendapatkan kembali hak sebagai pemilik harta tersebut sangat kecil. Pihak AS dan beberapa negara Sekutu saat itu selalu berdalih kalau Perang Dunia masuk dalam kategori Force Majeur yang artinya tidak ada kewajiban pengembalian harta tersebut oleh pihak pemenang perang.

Namun dengan kekuatan diplomasi Bung Karno akhirnya berhasil meyakinkan para petinggi AS dan Eropa kalau asset harta kekayaan yang diakuisisi Sekutu berasal dari Indonesia dan milik Rakyat Indonesia. Bung Karno menyodorkan fakta-fakta yang memastikan para ahli waris dari nasabah The Javache Bank selaku pemilik harta tersebut masih hidup !!

Nah, salah satu klausul dalam perjanjian The Green Hilton Agreement tersebut adalah membagi separoh separoh (50% & 50%) antara RI dan AS-Sekutu dengan ’bonus belakangan’ satelit Palapa dibagi gratis oleh AS kepada RI. Artinya, 50 persen (52.150 ton emas murni) dijadikan kolateral untuk membangun ekonomi AS dan beberapa negara eropa yang baru luluh lantak dihajar Nazi Jerman, sedang 50 persen lagi dijadikan sebagai kolateral yang membolehkan bagi siapapun dan negara manapun untuk menggunakan harta tersebut dengan sistem sewa (leasing) selama 41 tahun dengan biaya sewa per tahun sebesar 2,5 persen yang harus dibayarkan kepada RI melalui Ir.Soekarno. Kenapa hanya 2,5 persen ? Karena Bun Karno ingin menerapkan aturan zakat dalam Islam.

Pembayaran biaya sewa yang 2,5 persen itu harus dibayarkan pada sebuah account khusus a/n The Heritage Foundation (The HEF) dengan instrumentnya adalah lembaga-lembaga otoritas keuangan dunia (IMF, World Bank, The FED dan The Bank International of Sattlement/BIS). Kalau dihitung sejak 21 November 1965, maka jatuh tempo pembayaran biaya sewa yang harus dibayarkan kepada RI pada 21 November 2006. Berapa besarnya ? 102,5 persen dari nilai pokok yang banyaknya 57.150 ton emas murni + 1.428,75 ton emas murni = 58.578,75 ton emas murni yang harus dibayarkan para pengguna dana kolateral milik bangsa Indonesia ini.

Padahal, terhitung pada 21 November 2010, dana yang tertampung dalam The Heritage Foundation (The HEF) sudah tidak terhitung nilainya. Jika biaya sewa 2.5 per tahun ditetapkan dari total jumlah batangan emasnya 57.150 ton, maka selama 45 tahun X 2,5 persen = 112,5 persen atau lebih dari nilai pokok yang 57.150 ton emas itu, yaitu 64.293,75 ton emas murni yang harus dibayarkan pemerintah AS kepada RI. Jika harga 1 troy once emas (31,105 gram emas ) saat ini sekitar 1.500 dolar AS, berapa nilai sewa kolateral emas sebanyak itu ?? Hitung sendiri aja !!

Mengenai keberadaan account The HEF, tidak ada lembaga otoritas keuangan dunia manapun yang dapat mengakses rekening khusus ini, termasuk lembaga pajak. Karena keberadaannya yang sangat rahasia. Makanya, selain negara-negara di Eropa maupun AS yang memanfaatkan rekening The HEF ini, banyak taipan kelas dunia maupun ’penjahat ekonomi’ kelas paus dan hiu yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus ini agar terhindar dari pajak. Tercatat orang-orang seperti George Soros, Bill Gate, Donald Trump, Adnan Kasogi, Raja Yordania, Putra Mahkota Saudi Arabia, bangsawan Turko dan Maroko adalah termasuk orang-orang yang menitipkan kekayaannya pada rekening khusus tersebut.

Pada masa Pemerintahan Soeharto hingga Megawati telah diadakan suatu operasi untuk mengembalikan dana tersebut ke Indonesia. Bahkan para bankir hitam kelas dunia, CIA dan MOSSAD (agen rahasia Israel) berusaha keras untuk mendapatkan user account dan PIN The HEF tersebut, termasuk mencari tahu siapa yang diberi mandat Ir Soekarno terhadap account khusus itu. Namun usaha puhak-pihak yang mencoba mendapatkan harta tersebut belum menghasilkan, Ir Soekarno atau Bung Karno tidak pernah memberikan mandat kepada siapa pun. Artinya pemilik harta rakyat Indonesia itu tunggal, yakni atas nama Bung Karno sendiri. Sampai saat ini !!!


4. Akan Datangnya Ratu Adil

Menurut beberapa sumber yang diyakini mayarakat, menyebutkan akan adanya “Roda Cokro Manggilingan” (Penggulangan Sejarah) dan datangnya sosok pemimpin yang akan membawa Indonesia ke masa keemasannya. Diantaranya adalah bait syair Jayabaya, Serat Musarar Jayabaya, Ramalan Sabdo Palon Noyo Genggong, Serat Kalatidha R.Ng. Ronggowarsito, Serat Darmogandhul, Wangsit Siliwangi, dan hadist Nabi Muhammad SAW semuanya lengkap dalam konteks yang tersirat di dalamnya (lengkapnya di sini).

Dalam bab akhir Jangka Jayabaya, menyebutkan pasca goro-goro besar melanda planet bumi (antara lain terjadi kiamat bumi, perang besar, perang dunia, serangan jatuhnya benda angkasa, badai matahari, bencana alam terus-menerus) dan pulihnya jagad bumi manusia seperti sediakala menjadi normal kembali maka tatkala itulah akan tampil ke depan memimpin rakyat Nusantara, sang Ratu Adil sejati atau yang lebih popular disebut "satrio piningit" ataupun "satrio pinandito sinisihan wahyu". Sang pemimpin yang adil bijaksana ini akan didampingi titisan atau reinkarnasi terbaru Sabdo Palon, mereka berdua bersama memimpin kejayaan Nusantara dan bumi selatan yang berpenduduk bangsa kulit berwarna. Sedangkan bangsa kulit putih dan bangsa berkulit kuning bukan menjadi urusan beliau. Demikian garis besar ucapan Sabdo Palon tatkala muncul pertama kali setelah menghilang selama limaratus tahun sejak runtuhnya Majapahit. Sabdo Palon merupakan penasihat Jayabaya raja Kediri, dan kemudian menitis kembali menjadi penasihat Prabu Brawijaya V.

Ramalan ( Jangka) Joyoboyo berkenaan munculnya sang Ratu Adil juga sesuai menurut Uga Wangsit Prabu Siliwangi tentang pendamping Ratu Adil yakni pemuda berjanggut, dan juga sesuai ucapan Sabdo Palon, kedua pemimpin Nusantara tersebut adalah dwi-tunggal satu sama lain saling melengkapi dan tidak saling bertentangan. Tugas atau peran Sabdo Palon ialah mengadakan "fit and propher test" terhadap "Ratu Adil" satrio piningit. Sabdo Palon memang telah muncul akan tetapi Ratu Adil "Satrio Piningit" belum ada atau belum maju ke hadapan Sabdo Palon. Mengapa? Ratu Adil "Satrio Piningit" belum menerima wahyu Illahi atau pulung gaib wahyu keprabon karena memang belum tiba saat yang tepat. Kapan dan di mana keberadaan Sabdo Palon (yang tengah menghilang kembali) dan calon Ratu Adil "Satrio Piningit" memang belum ditemukan selama mereka belum muncul karena sebab besar atau goro-goro besar belum terjadi. Dalam teori revolusi mbah Karl Marx dan mbah Lenin, "seorang pemimpin akan selalu muncul dengan sendirinya tatkala segenap rakyat sudah siap dan matang untuk mengadakan revolusi." Pemimpin revolusi tidak akan mengumumkan kapan memulai suatu revolusi, rakyatlah yang merasa kehidupannya penuh derita tiada akhir dan negara tak peduli pada keadaan yang menyengsarakan bagi rakyat, sehingga pada akhirnya rakyat tidak lagi mempercayai negara. Tatkala itulah seorang pemimpin bakal tampil maju ke depan untuk memimpin rakyat yang sudah matang hendak mengadakan revolusi.

Inilah bait yang menggambarkan kemunculan Ratu Adil "satrio piningit" yang dilontarkan oleh Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo dari Kediri pada abad keduabelas masehi (1100-an) :
“ selet-selete yen mbesuk ngancik tutuping tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu, bakal ana dewa ngejawantah, apengawak manungsa.”

Kelak menjelang tutup tahun sinungkalan dewa wolu, ngasta manggalaning ratu (1988 Saka atau 2066 Masehi). Akan muncul dewa turun ke bumi yang berwujud seorang manusia (Ratu Adil yang secara populer disebut "Satrio Piningit").

Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, sosok dalam ramalan Ronggowarsito sebagai penyempurnaan daripada Ramalan Joyoboyo adalah manusia terpilih pengemban pulung gaib wahyu keprabon, dan kelak akan marak sebagai Ratu Adil yang diemong oleh Sabdo Palon.

Pemerintahan dalam tatanan dunia baru yang berpusat di salah satu pulau di Nusantara itu berbentuk kerajaan, tepatnya adalah kerajaan Jawa modern, ajaran lama yang diperbarui akan bergairah kembali, termasuk di dalamnya sifat-sifat kejawen yang telah direformasi sesuai dengan jamannya sangatlah dominan dalam ajaran tersebut.

Dalam sebuah hadits Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan bahwa Imam Mahdi pasti datang di akhir zaman. Ia akan memimpin ummat Islam keluar dari kegelapan kezaliman dan kesewenang-wenangan menuju cahaya keadilan dan kejujuran yang menerangi dunia seluruhnya.

“Andaikan dunia tinggal sehari sungguh Allah akan panjangkan hari tersebut sehingga diutus padanya seorang lelaki dari ahli baitku namanya serupa namaku dan nama ayahnya serupa nama ayahku. Ia akan penuhi bumi dengan kejujuran dan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kezaliman dan penganiayaan.” (HR abu Dawud 9435). Hadist ini memberikan kabar akan munculnya pemimpin di negeri Islam yang sedang bergolak. Sebagian kalangan muslim percaya akan muncul pemimpin baru Islam bermukjizat, dan menyebutnya Imam Mahdi ( Pemimpin yang terpilih). Ia akan menghantarkan rakyat meninggalkan babak era para penguasa diktator yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak Tuhan menuju babak tegaknya kembali kekhalifahan Islam yang mengikuti manhaj, sistem atau metode Kenabian. Lelaki itu keturunan Nabi Muhammad SAW, akan mengantarkan ummat Islam menuju babak Khilafatun ’ala Minhaj An-Nubuwwah. Imam Mahdi akan berperan sebagai panglima di akhir zaman untuk memerangi para Mulkan Jabriyyan (Para Penguasa Diktator) yang telah lama bercokol di berbagai negeri-negeri di dunia.

Beberapa pendapat memparalelkan Imam Mahdi menurut Hadist Nabi Muhammad SAW dengan Ratu Adil versi Ramalan Jayabaya, dengan dalih bahwa Jayabaya telah memeluk Agama Islam dan mendapatkan petunjuk Illahiah sehingga dapat memaparkan ramalan-ramalan tersebut. Pendapat lain bahwa istilah Ratu Adil adalah hasil transfer bahasa dan makna dari dalam hadist oleh para wali (Sunan Bonang, Sunan Giri dan Sunan Kalijaga).

Terlepas dari semua uraian saya tentang Misteri Kejayaan Indonesia, tidaklah menjadikan kita menjadi orang yang percaya takhyul ( musyrik ) dan mengada-ada, karena semua ini berdasar penelitian dan sumber sejarah. Semoga hal ini mampu memacu semangat kita untuk berkarya, menjadikan Indonesia Berjaya !!!

Sabtu, 16 Februari 2013

BETOK BUDHA TANGGUH SEPUH KARYA EMPU RAMAYADI

BETOK BUDHA TANGGUH SEPUH KARYA EMPU RAMAYADI







DUA SISI ANAK MANUSIA RAMBUTNYA MENYATU..DAN GINELUNG SEBAGAI SIMBOL MANUNGGALING KAWULO GUSTI

Selasa, 04 Desember 2012

NOGO DINO

Nogo Nogo dino wis dadi tembung umum mungguh wong jowo.
Aku dhewe ora mudheng, ngopo kok diarani nogo ?!..
Kok ora diarani macan utowo gajah umpamane..
Hehehe..
Sakngertiku Nogo dino iku kanggo petungan wong lelungan.
Tegese yen lelungan ojo nganti marani panggone nogo.
Petungane Nogo dino iku werno werno, ono sing miturut dinone, ono sing miturut pasarane, utowo miturut neptu dino lan pasaran.
Ugo ono maneh nogo sasi, nogo tahun lan nogo jatingarang.
Yen nogo dino, nogo pasaran lan nogo neptu panggone pindhah saben dinane, ora koyo nogo sasi,nogo tahun lan nogo jatiungarang sing pindhahe saben telung sasi pisan.
Koyo mangkene panggone nogo dino :

Akad : Kidul.
Senen : Kidul kulon.
Seloso : Kulon.
Rebo : Lor Kulon.
Kemis : Lor, Lor wetan.
Jumah : Wetan
Setu : Kidul Wetan

Panggone nogo pasaran :

Kliwon : Tengah.
Legi : Wetan.
Paing : Kidul.
Pon : Kulon.
Wage : Lor.

Panggone nogo miturut neptu dino lan pasaran :
Neptu dino lan neptu pasaran dijumlah yen ketemu :

7,12,17 : Nogo ono Lor Wetan.
8,13 : Nogo ono Lor Kulon.
9,14 : Nogo ono Kidul Kulon.
10,15 : Nogo ono kidul Wetan.
11,16,18 : Nogo ono wetan.

Panggone Nogo sasi (Ngalihe saben telung sasi) :

Poso, Sawal, Selo : Kidul.
Besar, Suro, Sapar : Kulon.
Mulud, Bakdamulud,Jemadilawal : Lor.
Jemadilakir, Rejeb, Ruwah : wetan.

Panggone nogo tahun (Ngalihe saben telung sasi) :

Besar, Suro, Sapar : Lor.
Mulud, Bakdamulud, Jemadilawal : Wetan.
Jemadilakir, Rejeb, Ruwah : Kidul.
Poso, Sawal, Selo : Kulon.

Panggone nogo jatingarang (Ngalihe saben telung sasi) :

Suro, Sapar, Mulud : Wetan.
Bakdomulud, Jemadilawal, Jemadilakir : Kidul.
Rejeb, Ruwah, Poso : Kulon.
Sawal, Selo, Besar : Lor.

Prayogane den weruhi, Sakabehing kaperluan ojo nganti marani panggone nogo, luwih luwih yen tumbuk antane nogo taun lan nogo jatingarang.
Dene tumbuke nogo taun lan nogo jatingarang iku ono ing sasi Besar, Mulud, Jemadiulakir lan Poso....

NEPTUNING DINA NEPTUNING PASARAN

NEPTUNING DINA NEPTUNING PASARAN Ahad = 5 Legi = 5 Senen = 4 Pahing = 9 Selasa = 3 P o n = 7 Rabu = 7 Wage = 4 Kemis = 8 Kliwon = 8 Jum’at = 6 Sabtu = 9 DINA KALAHIRAN SARTA PANGURIPANE Minangka pinuju kalairanipun kapendhet saking gunggungipun neptu dinten lan pasaran, lajeng dipun wuwuhi kalawan neptunipun sasi : muharram neptunipun setunggal Rajab neptunipun tiga Shafar neptunipun tiga Sya’ban neptunipun gangsal Rabi’ulawal neptunipun sekawan Ramadhan neptunipun enem Rabi’ulakhir neptunipun enem Syawal neptunipun setunggal Jumadi’lawal neptunipun pitu Zulkaidah neptunipun kalih Jumadi’lakhir neptunipun kalih Zulhijjah neptunipun sekawan Kapendhet saking neptunipun sasi kalairan, Sakmenika gunggungipun wau menawi langkung saking 10, lajeng ditilar 9, pinten sisanipun. Menawi sisa : 1. 2 utawi 6, menika wiji Lor, kang dados panguripanipun dagang, sanadyan kalih liya- liyanipun sampun benten kaliyan dagang. 2. 3 utawi 5, menika wiji kilen, panguripanipun laku Santri, sanadyan kalih liya- liyanipun, sampun benten kaliyan saking laku Santri. 3. 1 utawi 4, menika wiji Wetan, panguripanipun lakui priyayi, sanadyan kalih liya-liyanipun, sampun benten kaliyan saking laku Priyayi. 4. 7 utawi 8, menika wiji Kidul, panguripanipun among tani, sanadyan kalih liya- liyanipun, sampun benten kaliyan among tani. 5. 9, menika dipun wastani : tanpa tenggak tanpa siran, inggih menika wiji Raja, watakipun boten kenging dipun perintah, malah mrentah. PETUNG PANCA SUDA WATAKING MANUNGSA SAKA DINA KALAIRANE Dina Ahad Legi : Sumur Sinaba Paing : Wasesa Sagara Pon : Bumi Kapethak Wage : Satria Wibawa Kliwon : Lebu Katiyub Angin Dina Kemis Legi : Satria Wibawa Paing : Lebu Katiyup Angin Pon : Satria Wibawa Wage : Tunggak Semi Kliwon : Bumi Kapethak Dina Senen Legi : Tunggak Semi Paing : Wasesa Sagara Pon : Sumur Sinaba Wage : Wasesa Sagara Kliwon : Satria Wirang Dina Jum’at Legi : Satria Wirang Paing : Tunggak Semi Pon : Lebu katiyup Anging Wage : Sumur Sinaba Kliwon : Wasesa Sagara Dina Selasa Legi : Wasesa Segara Paing : Satria Wirang Pon : Satria Wibawa Wage : Lebu Katiyub Angin Kliwon : Sumur Sinaba Dina Sabtu Legi : Bumi Kapethak Paing : Satria Wibawa Pon : Wasesa Sagara Wage : Satria Wirang Kliwon : Tunggak Semi Dina Rebo Legi : Sumur Sinaba Paing : Wasesa Segara Pon : Bumi Kapethak Wage : Satria Wibawa Kliwon : Lebu Katiyub Angin * Nyuwun gunging pangaksami bilih wonten ngandhap punika mawi Basa Jawi ngoko. PETUNG PANCASUDA Kangge nikahake temanten. Ing ngisor iki petungan ala beciking dina kang prayoga kapilih utawa sinirik lamun arep nikahake panganten, miliha dina kang becik kanggo nikahan. Anjupuka neptuning dina lan neptuning pasaran ginunggung, ananging neptu-neptu mau kudu awewaton neptu-neptu kang kang tumrap petungan Pancasuda- Ringkes, yakuwi: NEPTUNING DINA NEPTUNING PASARAN Ahad neptune 3 Legi neptune 2 Senen neptune 4 Pahing neptune 3 Selasa neptune 5 P o n neptune 4 Rabu neptune 6 Wage neptune 5 Kemis neptune 7 Kliwon neptune 1 Jumat neptune 1 Sabtu neptune 2 Lamun gunggungan saka neptuning dina lan neptuning pasaran mau tinemu wilangan : 1. 7, iku tiba petungan : Nuju Padu, watake panganten utawa wong tuwane tansah tukar padu nganti salawase . 2. 2 utawa 8, iku petungan : Demang Kandhuruhan, watake panganten utawa wong tuwane sok nemu lara. 3. 3 utawa 9, iku petungan : Sanggar Waringin, watake panganten utawa wong tuwane sok nemu bungah lan seneng. 4. 4 utawa 10, iku petungan : Mantri Sinaroja, watake panganten utawa wong tuwane sok nemu karaharjan lan kasenengan. 5. 5 utawa 11, iku petungan : Menjangan Ketawan, watake panganten utawa wong tuwane sok kelangan utawa wong akeh sok ana kang duwe niat ala marang dheweke. 6. 6 utawa 12, iku petungan : Nuju Pati, watake panganten ora suwe, bakal pegat mati utawa pegat urip, tur akeh kasusahan kang tinemu. SEJARAH DINTEN PEKENAN WULAN TAUN PAWUKON SA’AT TUWIN WINDU Kanjeng Nabi Idris saweg jumeneng Nata wonten ing nagari Malebari, punika karsa angleluri, anulad amastani dinten. Semanten etanging taun surya 1020 taun awit saking Kanjeng Nabi Adam. Ing ngandhap punika pratelanipun dintenSamsu, Kammar, Marih, ‘Atarit, Mustari, Johar lan Jokal Punika panganggitipun dinten ingkang kaping sepisan. Nomer kekalih Kanjeng Nabi Idris, saweg jumeneng Nata wonten nagari ing Babel, lajeng Kanjeng Sultan Harmasulhakim, karsa anganggit amastani adamel dinten malih, anuju ing taun surya 1028. Ing ngandhap punika pratelanipun dinten Awal, Ahwal, Dibar, Jibari, Munisa, ‘Arobah lan Sayar. Punika panganggitipun dinten ingkang kaping kalih. Ing ngandhap punika etangan warsa: # Kamal # Sur # Joja # Sirtan # ‘Asat # Sunbullah # Mijan # ‘Akrab # Kus # Jadi # Dalwi # Kut Wonten ing P. Jawa ingkang jumeneng Nata Sri Maha Raja Buddhawaka, negari ing Gilingwesi, anenulad anganggit dinten, ingakng setunggal dinten 5, kekalih dinten 7, tetiga wanci 5 dipun wastani sa’at, sakawan masa, panganggitipun Resi Raddhi sakawan wau sinangkalan : Masa angler manglar (taun 296). Dinten 5 Legi Paing Pon Wage Kliwon Dinten 7 Radite Soma Anggara Buddha Respati Sukra Saniscara Wanci 5 kawastanan sa’at Maheswara Bisnu Brahma Sri Kala Masa 12: Kartika Pusa Manggasri Sitra Manggakala Naya Palguna Wisaka Jita Srawana Padrawana Asuji Jumeneng Ratu Rama ing Ayodya, Kraton binathara, ambawahaken tanah Hindhu sadaya, pujangga tetiga, sami anganggit lambang piyambak- piyambak, dipun wastani windu, panganggitipun windu, empu tetiga wau, sinangkalan : Rasa warna suci (446) Windu anggitanipun Resi Walmiki: Windu Adi Windu Sancaya Windu Kunthara Windu Sangara Windu Kawanda Windu Wahana Windu Sangkaya Windu Pranila Windu Tirta Windu Antara Windu Manggada Windu Murka Windu anggitanipun Resi Wisakarma : Windu Kawanda Windu Wahana Windu Sangkara Windu Pranila Windu Tirta Windu Tirta Windu Manggada Windu Murka Windu anggitanipun Resi Wasusarma Windu Kararti Windu Kara Windu Setra Windu Karta Windu Praniti Windu Pranila Kanjeng Nabi Muhammad S.a.w punika inggih karsa anenulad, amastani adamel dinten utawi wulan taun, panganggitipun nalika yuswa 33 taun, taksih jumeneng wonten ing Mekkah, sareng yuswa 40 taun pindhah dhumateng nagari ing Madinah ing warsa Je jumeneng wonten nagari ing Madinah 25 taun seda, lajeng kasarekaken kadhaton ing Madinah.Amangsuli cariyos panganggitipun ing dinten wulan taun, sinangkalan : Tata pandhita gati (575) Dinten 7 : Ahad Isnain Salasa Arbaa Khamis Jum’at Sabtu Taun 8 : Wawu Jimakhir Alip Ehe Jimawal Je Dal Be Wulan 12 : Sura Sapar Mulud Rabi’ulawal Rabi’ulakhir Jumadilawal Jumadilakhir Rajab Sa’ban Ramadhan Syawal Dzulka’idah Besar..

Selasa, 27 November 2012

WAYANG NUSANTARA YAMADIPATI


WAYANG NUSANTARA YAMADIPATI.


Sak jelek-jeleknya Batara Narada yang perawakannya gemuk, pendek, dan mekete, masih ada lucu-lucunya. Sekjen Dewata ini orangnya juga kelihatan nggak punya beban apa-apa. Omongannya biasane pakai awalan ngawur: blegenjong-blegenjong pak pak pong pak pak pong… Mahkamah Konstitusi aja mungkin ndak tahu apa itu artinya dan apakah itu masih konstitusional.

Ndak gitu dengan Batara Yamadipati. Sak jelek-jeleknya Batara Petrajaya alias Yamakingkarapati ini, babar blas sudah ndak ada jenaka-jenakanya. Dewa Pencabut Nyawa yang Mabesnya di Neraka Yomani itu sudah wajahnya mirip raksasa, masih ditekuk mendelep pula ke pangkal leher. Mulutnya selalu mengengeh. Seolah ia tertawa tapi tak ada satu pun manusia yang sanggup menyimpulkan bahwa itu tertawa.

Dan kening Yamadipati selalu mengkerut. Kedua alisnya seolah-olah tak bisa dipisah-pisahkan seperti NKRI. Hidupnya tidak seperti Narada alias Kanekaputra yang cengengesan di mana-mana. Beban hidup Yamadipati tampak berat. Mungkin karena pekerjaannya mencabut nyawa. Padahal dia sendiri tidak tahu siapa yang kelak harus mencabut nyawanya sendiri. Tidak ada Komisi Pencabut Nyawa di atas Yamadipati yang berwenang mencabut nyawa Yamadipati.

Hakim-hakim masih enak. Di atas mereka masih ada Komisi Yudisial. Pak Busyro Muqoddas yang memimpin Komisi Yudisial itu kan kerjanya menilai hakim. Hakim yang nggak becus menghakimi Gayus, akan gantian dihakimi oleh Komisi Yudisial. Hakim yang memenangkan pra-peradilan Anggodo, sehingga Bibit-Chandra dari KPK kembali jadi calon pesakitan, bisa dihakimi oleh Komisi Yudisial.

Lha kalau Yamadipati nggak jegos mencabut nyawa masyarakat, siapa yang mencabut nyawa Yamadipati?

Ndak onok! Asli!

Banyak orang menyangka Yamadipati tak mati-mati saking asyik dan sibuknya mencabut nyawa manusia sampai-sampai ia lupa mencabut nyawanya sendiri. Ndak gitu. Tapi ini karena di atas Yamadipati tak ada lembaga atau komisi independen yang berwenang memeriksa kalau perlu mengadilinya dengan cara mencabut nyawanya.

”Kasus Century yang kabarnya dikawal oleh satgas bikinan DPR saja tetap nggak jelas kapan selesainya dan apakah benar-benar akan dirampungno, kan? Apalagi Yamadipati yang nggak diawasi oleh siapa-siapa…tambah nggak jelas kapan selesainya, kapan matinya,” kata Gareng. Ah, tapi nggak usah didengarlah. Bisa saja Gareng cemburu. Yamadipati itu kan saudaranya sendiri tunggal bapak, Semar.


Ringkas kata, menurut Bagong dan Petruk, Yamadipati tuh merdeka. Jauuuuh… lebih merdeka dibanding orang Indonesia. Orang-orang Nusantara kan, ”atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta didorong oleh keinginan luhur”, menurut pembukaan undang-undang dasar kan baru diantar ”hingga ke depan pintu gerbang kemerdekaan”. Jadi, cuma anguk-anguk nduk depannya pintu gerbang kemerdekaan, belum benar-benar diantar sampai mak plung masuk ke dalam alam kemerdekaan.

Yamadipati merdeka. Lha wong rumah Yamadipati alias Petrajaya ini saja dibangun khusus oleh Wismakarma, dewa arsitek. Berbeda dibanding rumah-rumah dewa yang lain, rumah Petrajaya alias Yamakingkarapati ini tempatnya tidak menentu. Rumah itu bisa berpindah-pindah sendiri sesuai keinginan pemiliknya.

Merdekalah pokoknya anak Semar dari Dewi Kanastren ini!

Kapan nyawa seseorang akan dicabut, suka-suka Yamadipati. Dengan cara apa nyawa seseorang itu akan dicabut, juga suka-suka Yamadipati. Pokoknya bebas, sak karep-karepnya Yamadipati sendiri. Persis dunia perpajakan. Apalagi pajak dan kematian kan sama. Dalam hidup ini yang pasti kan cuma dua: kematian dan pajak.

Ya, orang-orang pajak rumahnya memang nggak bisa berpindah-pindah sendiri sesuai keinginan pemiliknya. Tapi rumah mereka kan juga ada di mana-mana. Mereka juga bekerja suka-suka. Yang menilai pajak kita adalah orang-orang pajak. Yang mengumpulkan uangnya adalah orang-orang pajak juga. Yang mengadili perselisihan pajak adalah orang-orang pajak juga. Mestinya ketiga fungsi itu kan dipisah-pisah lembaganya sehingga ketiganya bisa saling mengawasi, saling plerak-plerok.

Mungkin orang-orang pajak senang punya banyak kekuasaan di satu tangan. Mungkin lembaga perwakilan rakyat juga belum kepikir untuk memperbaiki undang-undang sehingga peradilan pajak kelak lebih otonom. Tapi Yamadipati tidak senang bekerja tanpa pengawas yang otonom. Sebab Yamadipati adalah dewa yang jujur. Bagi orang jujur, sangatlah jadi beban bekerja tanpa pengawas. Setiap saat hanya dia sendiri yang menilai diri sendiri apakah pekerjaannya sendiri itu benar atau salah.

Ya, bayangkan saja kayak apa Yamadipati itu. Sudah jelek, ndak ada lucu-lucunya, beban hidupnya berat pula. Pasti belum pernah ada perempuan yang mengintili-nya sepanjang hayat. Tak heran malam itu hati Yamadipati seperti kajugrugan gunung kembang karena dikintil oleh perempuan jelita bernama Retno Dewi Sawitri.



Retno Sawitri sang juwita adalah perempuan yang dari tubuhnya selalu terkuak campuran wangi melati dan sedap malam. Perempuan lencir kuning ini adalah putri Prabu Aswapati dari Kerajaan Mandaraka, leluhur Prabu Salya. Prabu Salya adalah mertua Baladewa, Adipati Karna dan Duryudana.

Tak selazim kaum perempuan lain dalam zamannya, pada suatu ketika Sawitri malah dipersilakan secara merdeka memilih calon suaminya sendiri. Pilihan Sawitri ternyata Bambang Setiawan dari pertapaan Argakenanga padahal Sawitri tahu lelaki ini ajalnya tak lama lagi tiba.

Saking trenyuh dan kagumnya Yamadipati pada cinta Sawitri terhadap sang suami, di saat ajal yang telah ditentukan Yamadipati tak jadi mencabut nyawa Setiawan. Sebelum balik kanan di bawah pohon sukun, Yamadipati malah mempersilakan Sawitri mengajukan permohonan yang pasti akan dikabulkan Dewa Maut itu, asal jangan meminta pembatalan pencabutan nyawa sang suami.

”Hamba tidak memohon pembatalan. Hamba cuma memohon penundaan barang sejam dua jam. Izinkan kami suami-istri ini berkumpul berolah asmara, andon katresnan, melakoni ulah kridaning priyo-wanodya. Maaf, hamba ingin punya anak sepuluh dalam sekali bercinta.”

Angin meniup daun-daun mahoni, akasia, dan bunga tanjung yang tumbuh di pekarangan rumah Sawitri. Sesuai janjinya, Yamakingkarapati mengabulkan permintaan Sawitri yang diajukan sambil bersimpuh dan menangis. Setelah semuanya berlangsung, Dewa Maut Petrajaya mencabut nyawa Setiawan diiringi lagu lama Kematian Rhoma Irama ”…suatu saat pasti kan dataaaaang… sang malaikat pencabut nyawaaa.. kan mencabut rohmu dari badaaan….”


Kini Yamadipati sudah berjalan cukup jauh sejak pergi dari rumah Sawitri. Lebih jauh dibanding jarak antara kediaman para mafia pajak di Jakarta dan rumah-rumah mafia pajak di Surabaya. Lalu Dewa maut itu berhenti. Ngaso di bawah pohon kenari. Ia bertanya pada Sawitri yang masih membuntutinya, ”Mengapa kamu cukup kuat, tabah, dan sabar mengikuti langkahku sampai sejauh ini, Sawitri. Sudah berhari-hari lho kamu ikuti aku setelah di rumahmu aku cabut nyawa suamimu, Raden Setiawan? Mana sekarang kamu sedang hamil pula?”

”Karena hamba kagum pada pukulun Yamadipati. Izinkanlah hamba mengikuti tokoh yang paling saya kagumi selama masih napak bumi, sebelum pukulun naik ke kahyangan. Hamba tak dapat terbang. Selagi bisa berdekatan, izinkan hamba tut wuri pukulun, dewa yang sangat tampan.”

”Hah? Ojok guyon ah, Sawitri. Raiku kayak raksasa gini…”

”Betul, pukulun. Ngganteng atau tidak seseorang itu kan tergantung hati yang melihatnya. Kelak akan ada Dewi Arimbi. Dewi Arimbi itu raksasa. Tapi di mata Bima, Arimbi adalah perempuan yang cantik sekali. Sama, di mata hamba, pukulun dewa yang cakep sekali.”

”Hmmm…Kamu naksir aku, Sawitri?”

”Duh, pukulun, bukan begitu. Tapi hamba kagum terhadap pukulun. Pukulun sangat sakti dan berkuasa. Apalagi memiliki senjata Kaladenda yang Dasamuka saja takut. Tetapi pukulun diam saja ketika istri pukulun, Dewi Mumpuni, takut melihat wajah pukulun dan berselingkuh dengan Bambang Nagatatmala, putra Sang Hyang Antaboga. Bahkan pukulun menyerahkan Dewi Mumpuni kepada Bambang Nagatatmala.”

Yamadipati trenyuh. ”Sawitri,” katanya, ”Kamu sangat setia pada suamimu. Berbeda dibanding Dewi Mumpuni. Aku kagum. Kini mintalah satu hal lagi padaku yang pasti akan aku kabulkan.”

Seperti pada relief di Candi Penataran dekat Blitar, Sawitri memohon pada Yamadipati agar suaminya, Setiawan, dihidupkan kembali, karena kesepuluh anaknya kelak memerlukan figur ayah yang tak bisa digantikan lelaki lain seperti saran Yamadipati sebelumnya.

(O ya, kenapa kok cuma sepuluh anak yang kelak akan jadi pemuda, bukan 100 anak seperti dalam pakem pedalangan? Karena menurut tokoh dunia kelahiran Blitar, jutaan orang tua tak akan sanggup mengubah situasi pasca Century seperti sekarang, ”tapi berikan padaku sepuluh pemuda saja, dan aku akan mengubah dunia!!!”) ***
.sujiwotejo.
— di WAYANG NUSANTARA.

10-JUNI-1972


HARI KELAHIRAN
Tanggal Masehi : 10 Juni 1972, Sabtu Saniscara Tanggal Jawa : 27 Bakda Mulud 1904, Setu Kliwon Tanggal Hijriah : 27 Rabiul Akhir 1392 Dina, Pasaran : Setu, Kliwon Windu, Lambang : Adi, Kulawu Warsa : Be Wuku : Kuningan Môngsô : Karolas-Asuji (12/05 s/d 11/06) Sadwårå/Paringkêlan : Mawulu Haståwårå/Padewan : Brama Sångåwårå/Padangon : Dadi Saptåwårå/Pancasuda : Tunggak Semi Rakam : Sanggar Waringin Paarasan : Lakuning Bumi.


PERWATAKKAN BERDASARKAN WETON DAN WUKU.
Tanggal Masehi : 10 Juni 1972, Sabtu Saniscara Tanggal Jawa : 27 Bakda Mulud 1904, Setu Kliwon Tanggal Hijriah : 27 Rabiul Akhir 1392
Watak berdasarkan weton
Dina : Setu
Membuat orang merasa senang, susah ditebak. Pasaran : Kliwon
Pandai bicara dan bergaul, periang, ambisius, urakan, kurang bisa membalas budi, setia pada janji, ceroboh memilih makanan, banyak selamat dan doanya. Haståwårå/Padewan : Brama
Tidak sabaran, emosional. Sadwårå : Mawulu
(Benih) Was-was dan curiga. Sångåwårå/Padangon : Dadi
(Kayu) Berselera tinggi dan tidak mau dilebihi orang lain. Saptåwårå/Pancasuda : Tunggak Semi
Rejekinya selalu ada, akan habis tetapi mendapatkan lagi. Rakam : Sanggar Waringin
Teduh hatinya, suka memberi perlindungan. Paarasan : Lakuning Bumi
Melindungi, mengasuh, sabar, mengalah.
Watak berdasarkan wuku
Wuku : Kuningan
  1. Dewa Bumi : Bethara Indra.
  2. Pohonnya Wijayakusuma : Rupawan.
  3. Burungnya Urang-urangan : kikir.
  4. Kuningan pinuteja : tercerahkan, selamat.
  5. Aralnya : diamuk / dikeroyok.
  6. Sedekah / sesaji : Sega punar dang-dangan beras senilai zakat fitrah, lauknya rancaban serba digoreng.
  7. Do'anya : selamat kabul, slawatnya : uang baru 25 ketheng.
  8. Kala Jaya Bumi : ada di barat menghadap ke timur. Saat wukunya berjalan selam 7 hari, sebaiknya menghindari bepergian menuju arah barat.
  9. Kuningan tata paruthul : Gersang, jangan menanam pohon yang diambil kayunya.
  10. Wuku Kuningan baik untuk menjalin persaudaraan, mecari nafkah, menolong orang.
  11. Tidak baik untuk menanam, memperindah rumah, menikahkan anak.
PUASA WETON MULAI HARI.

   Mulai dari hari
17 Nopember 2012
3 Suro 1946, Setu, Kliwon

22 Desember 2012
8 Sapar 1946, Setu, Kliwon

26 Januari 2013
14 Mulud 1946, Setu, Kliwon

2 Maret 2013
19 Bakda Mulud 1946, Setu, Kliwon

6 April 2013
25 Jumadil Awal 1946, Setu, Kliwon

11 Mei 2013
1 Rejeb 1946, Setu, Kliwon

15 Juni 2013
6 Ruwah 1946, Setu, Kliwon

20 Juli 2013
12 Poso 1946, Setu, Kliwon

24 Agustus 2013
17 Syawal 1946, Setu, Kliwon

28 September 2013
23 Dulkaidah 1946, Setu, Kliwon
Tanggal Masehi : 1 Juni 1972
Tanggal Jawa : 18 Bakda Mulud 1904, Kemis Legi
Sadwara - Wuku: Wurukung, Galungan
Dina Ala: Sengkan

Tanggal Masehi : 9 Juni 1972
Tanggal Jawa : 26 Bakda Mulud 1904, Jemuwah Wage
Sadwara - Wuku: Uwas, Kuningan
Dina Ala: Taliwangke

Tanggal Masehi : 12 Juni 1972
Tanggal Jawa : 29 Bakda Mulud 1904, Senen Pahing
Sadwara - Wuku: Aryang, Langkir
Dina Ala: Samparwangke

Tanggal Masehi : 14 Juni 1972
Tanggal Jawa : 2 Jumadil Awal 1904, Rebo Wage
Sadwara - Wuku: Paningron, Langkir
Dina Ala: Sengkan

Tanggal Masehi : 15 Juni 1972
Tanggal Jawa : 3 Jumadil Awal 1904, Kemis Kliwon
Sadwara - Wuku: Uwas, Langkir
Dina Ala: Sengkan.
SLAMETAN UNTUK YANG SUDAH MANGKAT.
Tanggal Wafat :
10 Juni 1972
27 Bakda Mulud 1904, Setu, Kliwon
Selametan 40 Hari
20 Juli 1972
8 Jumadil Akhir 1904, Kemis, Kliwon
Selametan 100 Hari
18 September 1972
9 Ruwah 1904, Senen, Kliwon
Selametan Pendhak Pisan - I
30 Mei 1973
27 Bakda Mulud 1905, Rebo, Wage
Selametan Pendhak Pindho - II
19 Mei 1974
26 Bakda Mulud 1906, Minggu, Pon
Selamatan Nyewu
7 Maret 1975
23 Sapar 1907, Jemuwah, Kliwon
ENTAR ENTARAN SRISADANA.
*naptu=17...umur6-17th isi 1, 18-23th isi 0, 24-29th isi 5, 30-35th isi 0, 36-47th isi 1, 48-53th isi 5, 54-59th isi 2, 60-65th isi 0, 66-71th isi 1, 72-77th isi 2, 78-89th isi 5, 90-95th isi 1, 96-101th isi 0, 102th -ahir hayat isi 4,...

AGUNG PAMBUDI IN DAHA KEDIRI

28 Nopember 2012, Rabu Budha


SALAM NUSANTARA SEJAHTERA DAMAI DIHATI ..RAHAYU SAGUNG DUMADI.
Tanggal Masehi : 28 Nopember 2012, Rabu Budha
Tanggal Jawa : 14 Suro 1946, Rebo Legi
Tanggal Hijriah : 14 Muharram 1434
Dina, Pasaran : Rebo, Legi
Windu, Lambang : Kuntara, Langkir
Warsa : Jimakir
Wuku : Prg.Bakat
Môngsô : Kapitu-Palguna (22/11 s/d 02/02)
Sadwårå/Paringkêlan : Wurukung
Haståwårå/Padewan : Guru
Sångåwårå/Padangon : Gigis
Saptåwårå/Pancasuda : Sumur Sinaba
Rakam : Dêmang Kadhuruwan
Paarasan : Aras Kêmbang.

Perwatakan berdasarkan Weton dan Wuku
Tanggal Masehi : 28 Nopember 2012, Rabu Budha
Tanggal Jawa : 14 Suro 1946, Rebo Legi
Tanggal Hijriah : 14 Muharram 1434
Watak berdasarkan weton
Dina : Rebo
Pendiam, pemomong dan penyabar.
Pasaran : Legi
Bertanggung jawab, murah hati, enak dalam pergaulan, selalu gembira seperti tidak pernah susah, sering kena fitnah, kuat tidak tidur malam hari, berhati-hati namun sering bingung sendiri, bicaranya berisi. Banyak keberuntungan dan kesialannya.
Haståwårå/Padewan : Guru
Berkuasa, bakat memimpin, pemberi, perayu.
Sadwårå : Wurukung
(Hewan) Kurang waspada.
Sångåwårå/Padangon : Gigis
(Tanah/Bumi) Berhati longgar, pamomong, sabar.
Saptåwårå/Pancasuda : Sumur Sinaba
Luas wawasan, bisa menjadi sumber orang mencari ilmu.
Rakam : Dêmang Kadhuruwan
Sering mendapat perkara, suka membantah.
Paarasan : Aras Kêmbang
Memiliki pesona daya tarik terhadap lawan jenis.
Watak berdasarkan wuku
Wuku : Prg.Bakat

Dewa Bumi : Bethara Bisma.
Pohonnya Tirisan : Panjang umur dan terjamin baik nafkahnya, sombong.
Burungnya Urang-urangan : cekatan.
Kaki depannya direndam air : pekertinya lembut di depan dan panas di belakangnya.
Prg.Bakat Anggarakasih wesi katen purasani (ibarat besi purasani keras) : kaku hatinya.
Aralnya : memanjat.
Sedekah / sesaji : Nasi dang-dangan beras senilai zakat fitrah, lauknya daging sapi dimasak jajatah dan bumbu manis, urap dari beragam daundaunan.
Do'anya : slamet pina, slawatnya : sekam / kawul.
Kala Jaya Bumi : ada di bawah menghadap ke atas.
Saat wukunya berjalan selama 7 hari, sebaiknya menghindari kegiatan turun / menggali tanah.
Wuku Prg.Bakat baik untuk mencari nafkah sambilan, merawat simpanan pangan, perantara perdagangan, menjatuhkan hukuman.
Tidak baik untuk bepergian, menananm tanaman kebun, mencari pekerjaan dan mengobati penyakit.
PUASA WETON MULAI HARI

Mulai dari hari
28 Nopember 2012
14 Suro 1946, Rebo, Legi

2 Januari 2013
19 Sapar 1946, Rebo, Legi

6 Pebruari 2013
25 Mulud 1946, Rebo, Legi

13 Maret 2013
1 Jumadil Awal 1946, Rebo, Legi

17 April 2013
6 Jumadil Akhir 1946, Rebo, Legi

22 Mei 2013
12 Rejeb 1946, Rebo, Legi

26 Juni 2013
17 Ruwah 1946, Rebo, Legi

31 Juli 2013
23 Poso 1946, Rebo, Legi

4 September 2013
28 Syawal 1946, Rebo, Legi

9 Oktober 2013
4 Besar 1946, Rebo, Legi.

DINA ALA


Tanggal Masehi : 5 Nopember 2012
Tanggal Jawa : 20 Besar 1945, Senen Pon
Sadwara - Wuku: Paningron, Maktal
Dina Ala: Bngs Padewan

Tanggal Masehi : 10 Nopember 2012
Tanggal Jawa : 25 Besar 1945, Setu Pon
Sadwara - Wuku: Wurukung, Maktal
Dina Ala: Naas Nabi

Tanggal Masehi : 11 Nopember 2012
Tanggal Jawa : 26 Besar 1945, Minggu Wage
Sadwara - Wuku: Paningron, Wuye
Dina Ala: Sengkan

Tanggal Masehi : 12 Nopember 2012
Tanggal Jawa : 27 Besar 1945, Senen Kliwon
Sadwara - Wuku: Uwas, Wuye
Dina Ala: Taliwangke, Sengkan

Tanggal Masehi : 20 Nopember 2012
Tanggal Jawa : 6 Suro 1946, Selasa Pon
Sadwara - Wuku: Tungle, Manahil
Dina Ala: Naas Tanggal

Tanggal Masehi : 25 Nopember 2012
Tanggal Jawa : 11 Suro 1946, Minggu Pon
Sadwara - Wuku: Mawulu, Prg.Bakat
Dina Ala: Naas Tanggal, Bngs Padewan

Tanggal Masehi : 27 Nopember 2012
Tanggal Jawa : 13 Suro 1946, Selasa Kliwon
Sadwara - Wuku: Aryang, Prg.Bakat
Dina Ala: Naas Nabi

Tanggal Masehi : 28 Nopember 2012
Tanggal Jawa : 14 Suro 1946, Rebo Legi
Sadwara - Wuku: Wurukung, Prg.Bakat
Dina Ala: Sengkan.

SLAMETAN UNTUK YANG SUDAH MANGKAT
Tanggal Wafat :
28 Nopember 2012
14 Suro 1946, Rebo, Legi
Selametan 40 Hari
7 Januari 2013
24 Sapar 1946, Senen, Legi
Selametan 100 Hari
8 Maret 2013
25 Bakda Mulud 1946, Jemuwah, Legi
Selametan Pendhak Pisan - I
17 Nopember 2013
13 Suro 1947, Minggu, Kliwon
Selametan Pendhak Pindho - II
6 Nopember 2014
13 Suro 1948, Kemis, Wage
Selamatan Nyewu
25 Agustus 2015
10 Dulkaidah 1948, Selasa, Legi.
 miturut entar entaranipun SRISADANA..rebo legi naptu 12=.....*naptu=12.....umur 6-11th isi 0, 12-17th isi 5,18-23th isi 1,24-29th isi 0, 30-35th isi 4, 36-41th isi 1, 42-47th isi 4, 48-53th isi 0, 54-59th isi 1, 60-71th isi 4,72th -ahir hayat isi o...