Selasa, 27 November 2012

WAYANG NUSANTARA YAMADIPATI


WAYANG NUSANTARA YAMADIPATI.


Sak jelek-jeleknya Batara Narada yang perawakannya gemuk, pendek, dan mekete, masih ada lucu-lucunya. Sekjen Dewata ini orangnya juga kelihatan nggak punya beban apa-apa. Omongannya biasane pakai awalan ngawur: blegenjong-blegenjong pak pak pong pak pak pong… Mahkamah Konstitusi aja mungkin ndak tahu apa itu artinya dan apakah itu masih konstitusional.

Ndak gitu dengan Batara Yamadipati. Sak jelek-jeleknya Batara Petrajaya alias Yamakingkarapati ini, babar blas sudah ndak ada jenaka-jenakanya. Dewa Pencabut Nyawa yang Mabesnya di Neraka Yomani itu sudah wajahnya mirip raksasa, masih ditekuk mendelep pula ke pangkal leher. Mulutnya selalu mengengeh. Seolah ia tertawa tapi tak ada satu pun manusia yang sanggup menyimpulkan bahwa itu tertawa.

Dan kening Yamadipati selalu mengkerut. Kedua alisnya seolah-olah tak bisa dipisah-pisahkan seperti NKRI. Hidupnya tidak seperti Narada alias Kanekaputra yang cengengesan di mana-mana. Beban hidup Yamadipati tampak berat. Mungkin karena pekerjaannya mencabut nyawa. Padahal dia sendiri tidak tahu siapa yang kelak harus mencabut nyawanya sendiri. Tidak ada Komisi Pencabut Nyawa di atas Yamadipati yang berwenang mencabut nyawa Yamadipati.

Hakim-hakim masih enak. Di atas mereka masih ada Komisi Yudisial. Pak Busyro Muqoddas yang memimpin Komisi Yudisial itu kan kerjanya menilai hakim. Hakim yang nggak becus menghakimi Gayus, akan gantian dihakimi oleh Komisi Yudisial. Hakim yang memenangkan pra-peradilan Anggodo, sehingga Bibit-Chandra dari KPK kembali jadi calon pesakitan, bisa dihakimi oleh Komisi Yudisial.

Lha kalau Yamadipati nggak jegos mencabut nyawa masyarakat, siapa yang mencabut nyawa Yamadipati?

Ndak onok! Asli!

Banyak orang menyangka Yamadipati tak mati-mati saking asyik dan sibuknya mencabut nyawa manusia sampai-sampai ia lupa mencabut nyawanya sendiri. Ndak gitu. Tapi ini karena di atas Yamadipati tak ada lembaga atau komisi independen yang berwenang memeriksa kalau perlu mengadilinya dengan cara mencabut nyawanya.

”Kasus Century yang kabarnya dikawal oleh satgas bikinan DPR saja tetap nggak jelas kapan selesainya dan apakah benar-benar akan dirampungno, kan? Apalagi Yamadipati yang nggak diawasi oleh siapa-siapa…tambah nggak jelas kapan selesainya, kapan matinya,” kata Gareng. Ah, tapi nggak usah didengarlah. Bisa saja Gareng cemburu. Yamadipati itu kan saudaranya sendiri tunggal bapak, Semar.


Ringkas kata, menurut Bagong dan Petruk, Yamadipati tuh merdeka. Jauuuuh… lebih merdeka dibanding orang Indonesia. Orang-orang Nusantara kan, ”atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta didorong oleh keinginan luhur”, menurut pembukaan undang-undang dasar kan baru diantar ”hingga ke depan pintu gerbang kemerdekaan”. Jadi, cuma anguk-anguk nduk depannya pintu gerbang kemerdekaan, belum benar-benar diantar sampai mak plung masuk ke dalam alam kemerdekaan.

Yamadipati merdeka. Lha wong rumah Yamadipati alias Petrajaya ini saja dibangun khusus oleh Wismakarma, dewa arsitek. Berbeda dibanding rumah-rumah dewa yang lain, rumah Petrajaya alias Yamakingkarapati ini tempatnya tidak menentu. Rumah itu bisa berpindah-pindah sendiri sesuai keinginan pemiliknya.

Merdekalah pokoknya anak Semar dari Dewi Kanastren ini!

Kapan nyawa seseorang akan dicabut, suka-suka Yamadipati. Dengan cara apa nyawa seseorang itu akan dicabut, juga suka-suka Yamadipati. Pokoknya bebas, sak karep-karepnya Yamadipati sendiri. Persis dunia perpajakan. Apalagi pajak dan kematian kan sama. Dalam hidup ini yang pasti kan cuma dua: kematian dan pajak.

Ya, orang-orang pajak rumahnya memang nggak bisa berpindah-pindah sendiri sesuai keinginan pemiliknya. Tapi rumah mereka kan juga ada di mana-mana. Mereka juga bekerja suka-suka. Yang menilai pajak kita adalah orang-orang pajak. Yang mengumpulkan uangnya adalah orang-orang pajak juga. Yang mengadili perselisihan pajak adalah orang-orang pajak juga. Mestinya ketiga fungsi itu kan dipisah-pisah lembaganya sehingga ketiganya bisa saling mengawasi, saling plerak-plerok.

Mungkin orang-orang pajak senang punya banyak kekuasaan di satu tangan. Mungkin lembaga perwakilan rakyat juga belum kepikir untuk memperbaiki undang-undang sehingga peradilan pajak kelak lebih otonom. Tapi Yamadipati tidak senang bekerja tanpa pengawas yang otonom. Sebab Yamadipati adalah dewa yang jujur. Bagi orang jujur, sangatlah jadi beban bekerja tanpa pengawas. Setiap saat hanya dia sendiri yang menilai diri sendiri apakah pekerjaannya sendiri itu benar atau salah.

Ya, bayangkan saja kayak apa Yamadipati itu. Sudah jelek, ndak ada lucu-lucunya, beban hidupnya berat pula. Pasti belum pernah ada perempuan yang mengintili-nya sepanjang hayat. Tak heran malam itu hati Yamadipati seperti kajugrugan gunung kembang karena dikintil oleh perempuan jelita bernama Retno Dewi Sawitri.



Retno Sawitri sang juwita adalah perempuan yang dari tubuhnya selalu terkuak campuran wangi melati dan sedap malam. Perempuan lencir kuning ini adalah putri Prabu Aswapati dari Kerajaan Mandaraka, leluhur Prabu Salya. Prabu Salya adalah mertua Baladewa, Adipati Karna dan Duryudana.

Tak selazim kaum perempuan lain dalam zamannya, pada suatu ketika Sawitri malah dipersilakan secara merdeka memilih calon suaminya sendiri. Pilihan Sawitri ternyata Bambang Setiawan dari pertapaan Argakenanga padahal Sawitri tahu lelaki ini ajalnya tak lama lagi tiba.

Saking trenyuh dan kagumnya Yamadipati pada cinta Sawitri terhadap sang suami, di saat ajal yang telah ditentukan Yamadipati tak jadi mencabut nyawa Setiawan. Sebelum balik kanan di bawah pohon sukun, Yamadipati malah mempersilakan Sawitri mengajukan permohonan yang pasti akan dikabulkan Dewa Maut itu, asal jangan meminta pembatalan pencabutan nyawa sang suami.

”Hamba tidak memohon pembatalan. Hamba cuma memohon penundaan barang sejam dua jam. Izinkan kami suami-istri ini berkumpul berolah asmara, andon katresnan, melakoni ulah kridaning priyo-wanodya. Maaf, hamba ingin punya anak sepuluh dalam sekali bercinta.”

Angin meniup daun-daun mahoni, akasia, dan bunga tanjung yang tumbuh di pekarangan rumah Sawitri. Sesuai janjinya, Yamakingkarapati mengabulkan permintaan Sawitri yang diajukan sambil bersimpuh dan menangis. Setelah semuanya berlangsung, Dewa Maut Petrajaya mencabut nyawa Setiawan diiringi lagu lama Kematian Rhoma Irama ”…suatu saat pasti kan dataaaaang… sang malaikat pencabut nyawaaa.. kan mencabut rohmu dari badaaan….”


Kini Yamadipati sudah berjalan cukup jauh sejak pergi dari rumah Sawitri. Lebih jauh dibanding jarak antara kediaman para mafia pajak di Jakarta dan rumah-rumah mafia pajak di Surabaya. Lalu Dewa maut itu berhenti. Ngaso di bawah pohon kenari. Ia bertanya pada Sawitri yang masih membuntutinya, ”Mengapa kamu cukup kuat, tabah, dan sabar mengikuti langkahku sampai sejauh ini, Sawitri. Sudah berhari-hari lho kamu ikuti aku setelah di rumahmu aku cabut nyawa suamimu, Raden Setiawan? Mana sekarang kamu sedang hamil pula?”

”Karena hamba kagum pada pukulun Yamadipati. Izinkanlah hamba mengikuti tokoh yang paling saya kagumi selama masih napak bumi, sebelum pukulun naik ke kahyangan. Hamba tak dapat terbang. Selagi bisa berdekatan, izinkan hamba tut wuri pukulun, dewa yang sangat tampan.”

”Hah? Ojok guyon ah, Sawitri. Raiku kayak raksasa gini…”

”Betul, pukulun. Ngganteng atau tidak seseorang itu kan tergantung hati yang melihatnya. Kelak akan ada Dewi Arimbi. Dewi Arimbi itu raksasa. Tapi di mata Bima, Arimbi adalah perempuan yang cantik sekali. Sama, di mata hamba, pukulun dewa yang cakep sekali.”

”Hmmm…Kamu naksir aku, Sawitri?”

”Duh, pukulun, bukan begitu. Tapi hamba kagum terhadap pukulun. Pukulun sangat sakti dan berkuasa. Apalagi memiliki senjata Kaladenda yang Dasamuka saja takut. Tetapi pukulun diam saja ketika istri pukulun, Dewi Mumpuni, takut melihat wajah pukulun dan berselingkuh dengan Bambang Nagatatmala, putra Sang Hyang Antaboga. Bahkan pukulun menyerahkan Dewi Mumpuni kepada Bambang Nagatatmala.”

Yamadipati trenyuh. ”Sawitri,” katanya, ”Kamu sangat setia pada suamimu. Berbeda dibanding Dewi Mumpuni. Aku kagum. Kini mintalah satu hal lagi padaku yang pasti akan aku kabulkan.”

Seperti pada relief di Candi Penataran dekat Blitar, Sawitri memohon pada Yamadipati agar suaminya, Setiawan, dihidupkan kembali, karena kesepuluh anaknya kelak memerlukan figur ayah yang tak bisa digantikan lelaki lain seperti saran Yamadipati sebelumnya.

(O ya, kenapa kok cuma sepuluh anak yang kelak akan jadi pemuda, bukan 100 anak seperti dalam pakem pedalangan? Karena menurut tokoh dunia kelahiran Blitar, jutaan orang tua tak akan sanggup mengubah situasi pasca Century seperti sekarang, ”tapi berikan padaku sepuluh pemuda saja, dan aku akan mengubah dunia!!!”) ***
.sujiwotejo.
— di WAYANG NUSANTARA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar