Senin, 15 Agustus 2011

RAJA PATI - RAJA BRANA dalam pandangan (SANGKAN PARANING DUMADI)

RAJAPATI RAJABRANA,

artinya 

SOYO MATI SOYO ONO.

(lebih mati lebih ana).

SANGKAN PARANING DUMADI

oleh Agung Pambudi pada 12 Juni 2011 jam 4:40
RAJAPATI RAJABRANA,artinya SOYO MATI SOYO ONO.(lebih mati lebih ana).SANGKAN PARANING DUMADI

Anggugu adalah RAJAPATI RAJABRANA,artinya SOYO MATI SOYO ONO.(lebih mati lebih ana).
anggugu adalah aku,aku yang mawana..aku yang mawana adalah karsa.karsa adalah rajabrana dalam kasunyatan rajapati.
RAJAPATI adalah kematiannya RAJA DUNIA yaitu AKU manusia yang bernafsu untuk merajai segala sesuatu .
Di dalam kehampaan AKU Maka kita akan menemukan RAJABRANA.
RAJABRANA bukannya berarti kekayaan ,tetapi RAJA meliputi segala yang ANA
RAJAPATI RAJABRANA adalah kasunyatan dan kemampuan dalam tata kahanan.

RAJAPATI RAJABRANA adalah suatu akibat dari KARSA yang mawana.
Tanpa RAJAPATI RAJA BRANA manungso-abdi tidak mampu ana dalam tata kahanan,semua RASA tergantung LUKAR dalam RAJABRANA.
Karena RAJABRANA maka MANUNGSO-ABDI mampu untuk MANDIRENG PRIBADI.
Dan karena RAJAPATI ..manugso-abdi mampu ada dalam HENING dan mampu juga menghidupi HENENG.

RAJAPATI adalah kurnia sebagai akibat lukar dari bebandan tata bebrayan.RAJAPATI RAJABRANA adalah suatu kemustahilan bagi NGELMU dan KAWERUH.

PAMIKIR dan PANGRASA ,manusia tidak lagi mampu untuk menerimannya.karena kurnia RAJAPATI RAJABRANA maka MANUGSO-ABDI adalah bebas dari usaha,usaha lahiriyah dan usaha ruhaniyah anggugu adalah kehendak dan KARSA ,anggugu adalah percaya ya anggugu adalah bebas dari PAMIKIR dan PANGRASA.

ANGGUGU tidak perlu dimengerti ,tetapi hanya perlu digugu,anggugu adalah sederhana bagi manungs-abdi yang dikurniai RAJAPATI RAJABRANA ,Tetapi bagi manugso-kawulo..anggugu adalah suatu yang nglengkara (mustahil).

anggugu adalah TUHU TRESNO  (SUNGGUH SAYANG) karena anggugu adalaha CINTA yang MAWANA.
Dalam anggugu kita mampu menghayati ana yang managana dalam tresna.mangana dalam tresna adalah mangana dalam RASA YANG ANA.
TRESNA adalah RASA yang bisa dihayati leh sapada (sesama) dalam sih (cinta) yang mawana,SIH adalah RASA ,Sedang SIT adalah KARSA.SIT,SEMU,KARSA,adalah rangkaian SAWETAH yang berpangkal dari AKU.

AKU SEDANG SIH.AKU SEDANG SIH,MANUNGAL,TREP adalah rangkaian SAWETAH yang berpangkal dari kahanan .kahanan semesta ini adalah kahananyang ANA .kahanan suwung adalah kahanan yang tan ana .KAHANAN SEJATI adalah kahanan yang mawana,dengan RAJAPATI RAJABRANA itu bukan bebandan karena bukan merupakan kemampuan yang bisa dimiliki .
RAJAPATI RAJABRANA adalah kemapuan dalam NING .
jadi kemampuan yang yang mawana RAJAPATI RAJABRANA mawana karena SIH ,SIHING GUSTI itu mawana kalau SITING GUSTI telah kita hidupi .
SITING GUSTI adalah alami dalam kahanan ,sedang SIHING GUSTI adalah sejati sebagaia kahanan.
menghidupi tata kahanan hanya bisa terjadi didalam SIH yang mawana sehingga kita bisa ada dalam TUHU tresno kepada hak dari semua yang ana.
dewasa adalah nyata .RAJAPATI RAJABRANA adalah kasunyatan Sejati.
karena itu menghidupi kahanan yang sejati itu tidak akan berlalu dalam DARMA lagi ,tetapi dalam sarira pribadi dari manungso-abdi ..
arti kehidupan yang dihidupi unuk kegunaan kahanan tidak lagi perlu dihidupi jadi kasunyatan bebrayan ,tetapi jadi kasunyaan jati,kasunyatan jati itu tidak bisa lagi ditrima oleh bebryan ,kasunyatan jati adalah kasunyatan karena hak dan didalam hak.
KASUNYATAN JATI ADALAH HUKUM KEHIDUPAN yang mawana ,menghidupi tata kahanan iu bukan lagi usaha ,tetapi anggugu ,karena itu tidak perlu dipikir dan tidak perlu dirasa ,tetapi perlu digugu ya,
RAJAPATI RAJABRANA ialah bekal hidup anggugu dalam tata kahanan,bebas dari bebandan tata bebryan maka perkembanagan ROHANI akan berlaku dalam sarira abdi .
MANUGSA-ABDI dengan anggugu ingg semu akan NGRIPTA SARIRA.NGIPTA SARIRA adalah PENYAWETAHAN diri.penyawetahan diri minta pertumbuhan alami menurut kahanan dan dalam kahanan .caranya adalah ghaib dan khas.
terjadinya adalah ghaib dan khas NGRIPTA SARIRA atau PENYAWETAHAN DIRI di dalam sarira abdi adalah "NGENTUNG" ngentung berasala dari kata ENTUNG yang berarti KEPOMPONG.
seperti ulat mengubah diri menjadi kupu -kupu dengan NGENTUNG ,yaitu menjalani jadi KEPOMPONG ,demikian pula manungsa-abdi akan NGENTUNG dalam WARABRATA dan MONABRATA untuk penyawetahan SARIRA ABDI .
Proses pengentungan ulat menjadi kupu kupu adalah alami ,sedang proses pengentungan sarira-abdi menjadi sarira -Gusti atau dengan istilah sarira driya menjadi sarira -langgeng adalah sejati.
kita percaya bahwa ulat dengan melakukan penggentungan bisa berubah menjadi kupu kupu ,tetapi kita tidak mengerti bagaimana itu bisa terjadi,percaya itu tidak perlu mengerti ,kita juga percaya bahwa sarira -abdi dengan pengentungan bisa mencapai penyawetahan jadi sarira-Gusti ,tetapi kita tidak mengerti bagaimana itu nanti bisa terjadi,percaya itu tidak perlu mengerti ,tetapi hanya perlun digugu,

Ngripta sarira adalah penyawetahan rasa,penyawetahan raga dann penyawetahan aku.cahya perincian manungsa-aku yang biasanya berlalu lebih dulu menjelang kematian,tidak perlu lagi berlalu ,karena sarira-GUSTI adalah bebas dari lahir mati ,

SARIRA-GUSTI itu bebas dari lahir mati,tetapi SUKMA-ABDI harus mengalami proses sendiri untuk bisa bebas dari ana musna .selama SUKMA-ABDI belum mengalami RACUT dari anane atau lukar dari eksistensinya ,maka SUKMA-ABDI masih mangana.
MANGANA adalah derita .NGRIPTA SARIRA itu terdiri dari PENYAWETAHAN SARIRA,DAN PENYAWETAHAN SUKMA.
PENYAWETAHAN SARIRA,DAN PENYAWETAHAN SUKMA ini merupakan persiapan untuk bisa RACUT atau LUKAR dari anane ., menerima atau mengalami PENYAWETAHAN dilakukan leh MANUGSA-ABDI dalam tapa WARABRATA dan tapa MONABRATA.,yaiu proses pengentungan dalam sarira -abdi ,
Pengracutan sarira leh pengracutan SUKMA akan terjadi di alam kejaten yaitu dari JATI menjadi PURBA..itulah semua sangkan paraning dumadi sebagai jalan.kehidupan dan kebenaran ,dan itu pulalah AGAMA ABDI,AGAMA KAWULO.

olah kepribadian agung pambudi sabtu kliwon -malam ahad legi 12 juni 2011 in gubuk pagupon omahe doro batavia selesai ditulis jam 04;00 wib.
manut obahiing pangeran yo lur..monggo karsa-ning pangeran awak-e dewe ki ora duwe opo _opo sumeleh lan sumende..

 ASTA BRATA. 
Asta Brata artinya delapan ajaran utama tentang kepemimpinan yang merupakan petunjuk Sri Rama kepada Bharata (adiknya) yang akan dinobatkan menjadi Raja Ayodhya. Asta Brata disimbulkan dengan sifat-sifat mulia dari alam semesta yang patut dijadikan pedoman bagi setiap pemimpin, yaitu : 1. Indra Brata Seorang pemimpin hendaknya seperti hujan yaitu senantiasa mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam setiap tindakannya dapat membawa kesejukan dan penuh kewibawaan. Laku Hambeging indra Seorang yang dipercaya menjadi pemimpin, hendaknya mengusahakan kemakmuran bagi rakyatnya dan dalam segala tindakannya dapat membawa kesejukan dan kewibawaan yang seperti bintang. Maknanya, seorang pemimpin haruslah kuat, tidak mudah goyah, berusaha menggunakan kemampuan untuk kebaikan rakyat, tidak mengumbar hawa nafsu, kuat hati dan tidak suka berpura-pura. Seorang pemimpin haruslah adil seperti air, yang jika di seduh di gelas akan rata mengikuti wadahnya. Keadilan yang ditegakkan bisa memberi kecerahan ibarat air yang membersihkan kotoran. Air juga tidak pernah emban oyot emban cindhe “pilih kasih” karena air akan selalu turun ke bawah, tidak naik ke atas. 2.Yama Brata Pemimpin hendaknya meneladani sifat-sifat Dewa Yama, yaitu berani menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi masyarakat. Laku Hambeging Yama Pemimpin hendaknya meneladani sikap dan sifat Dewa Yama, dimana Dewa Yama selalu menegakkan keadilan menurut hukum atau peraturan yang berlaku demi mengayomi rakyatnya. Harus menindak tegas abdinya, jika mengetahui abdinya itu memakan uang rakyat dan mengkhianati negaranya. Dewa Yama memiliki sifat seperti mendung (awan), mengumpulkan segala yang tidak berguna menjadi lebih berguna. Adil tidak pilih kasih. Bisa memberikan ganjaran yang berupa hujan dan keteduhan. Jika ada yang salah maka akan dihukum dengan petir dan halilintar. 3.Surya Brata Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti Matahari (surya) yang mampu memberikan semangat dan kekuatan pada kehidupan yang penuh dinamika dan sebagai sumber energi. Laku Hambeging Surya Seorang pemimpin yang baik haruslah memiliki sifat dan sikap seperti matahari (surya) yang mampu memberi semangat dan kekuatan yang penuh dinamika serta menjadi sumber energi bagi bumi pertiwi. Sifat matahari berarti sabar dalam bekerja, tajam, terarah dan tanpa pamrih. Semua yang dijemur pasti kena sinarnya, tapi tidak dengan serta merta langsung dikeringkan. Jalannya terarah dan luwes. Tujuannya agar setiap manusia sabar dan tidak sulit dalam mengupayakan rejeki. Menjadi matahari juga berarti menjadi inspirasi pada bawahannya, ibarat matahari yang selalu menyinari semesta. 4.Candra Brata Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat seperti bulan yaitu mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kegelapan/kebodohan dengan menampilkan wajah yang penuh kesejukan dan penuh simpati sehingga masyarakatnya merasa tentram dan hidup nyaman. Laku Hambeging Candra Pemimpin hendaknya memiliki sifat dan sikap yang mampu memberikan penerangan bagi rakyatnya yang berada dalam kebodohan dengan wajah yang penuh kesejukan seperti rembulan (candra), penuh simpati, sehingga rakyat menjadi tentram dan hidup dengan nyaman. Rembulan juga bersifat halus budi, terang perangai, menebarkan keindahan kepada seisi alam. Seorang pemimpin harus berlaku demikian, menjadi penerang bagi rakyatnya. 5.Vayu Brata (maruta) Pemimpin hendaknya ibarat angin, senantiasa berada di tengah-tengah masyarakatnya, memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah untuk mengenal denyut kehidupan masyarakat yang dipimpinnya. Laku Hambeging Maruta Maruta adalah angin. Pemimpin harus menjadi seperti angin. Senantiasa memberikan kesegaran dan selalu turun ke bawah melihat rakyatnya. Angin tidak berhenti memeriksa dan meneliti, selalu melihat perilaku manusia, bisa menjelma besar atau kecil, berguna jika digunakan. Jalannya tidak kelihatan, nafsunya tidak ditonjolkan. Jika ditolak ia tidak marah dan jika ditarik ia tidak dibenci. Seorang pemimpin harus berjiwa teliti di mana saja berada. Baik buruk rakyat harus diketahui oleh mata kepala sendiri, tanpa menggantungkan laporan bawahannya. Biasanya, bawahan bagitu pelit dan selektif dalam memberikan laporan kepada pemimpin, dan terkadang hanya kondisi baik-baiknya saja yang dilaporkan. 6.Bhumi (Danada) Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi yaitu teguh, menjadi landasan berpijak dan memberi segala yang dimiliki untuk kesejahteraan masyarakatnya. Laku Hambeging Bumi Pemimpin hendaknya memiliki sifat-sifat utama dari bumi, yaitu teguh, menjadi landasan pijak dan memberi kehidupan (kesejahteraan) untuk rakyatnya. Bumi selalu dicangkul dan digali, namun bumi tetap ikhlas dan rela. Begitu pula dengan seorang pemimpin yang rela berkorban kepentingan pribadinya untuk kepentingan rakyat. Seorang pemimpin haruslah memiliki sikap welas asih seperti sifat-sifat bumi. Falsafah bumi yang lain adalah air tuba dibalas dengan air susu. Keburukan selalu dibalas dengan kebaikan dan keluhuran. 7.Varuna Brata Pemimpin hendaknya bersifat seperti samudra yaitu memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak (riak) dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan. Laku Hambeging Baruna Baruna berarti samudra yang luas. Sebuah samudra memiliki wawasan yang luas, mampu mengatasi setiap gejolak dengan baik, penuh kearifan dan kebijaksanaan. Samudera merupakan wadah air yang memiliki sifat pemaaf, bukan pendendam. Air selalu diciduk dan diambil tapi pulih tanpa ada bekasnya. Seorang pemimpin harus mempunyai sifat pemaaf, sebagaimana sifat air dalam sebuah samudra yang siap menampung apa saja yang hanyut dari daratan. Samudra mencerminkan jiwa yang mendukung pluralisme dalam hidup bermasyarakat yang berkarakter majemuk.. 8.Agni Brata Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api yaitu mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan, tetap teguh dan tegak dalam prinsip dan menindak/menghanguskan yang bersalah tanpa pilih kasih. Laku hambeging Agni Pemimpin hendaknya memiliki sifat mulia dari api (agni), yang selalu mendorong rakyatnya memiliki sikap nasionalisme. Seperti api, berarti pemimpin juga harus memiliki prinsip menindak yang bersalah tanpa pilih kasih. Api bisa membakar apa saja, menghanguskan semak-semak, menerangkan yang gelap. Bisa bersabar namun juga bisa sangat marah membela rakyatnya jika dizolimi dan tetap memiliki pertimbangan berdasarkan akal sehat dan bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita melihat para pemimpin Indonesia saat ini, sudahkah sesuai dengan falsafah Asta Brata di atas? Jika belum, hendaknya beliau para para pemimpin negeri ini segera berubah agar segala konflik dan permasalahan negeri ini segera bisa diselesaikan. Karena bagaimanapun juga saat ini rakyat sudah terlalu banyak menderita dan butuh perubahan. AGUNG PAMBUDI 10 JUNI 1972-10 JUNI 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar